Momis
14:33
November, 2014.
"Halo assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Dimana dek?"
"Di kamar."
"Udah makan?"
"Iya ini lagi makan."
"Sama apa?"
"Kentang sama mie."
"Oh iya, uangnya udah dikirim. Makannya digizi ya, ujian."
"Iya."
"Ibuk doain lancar ngerjainnya."
"Iya amin."
"Yaudah cepet berangkat, jangan mepet-mepet."
"Iya. Eh iya, selamat hari guru."
"Oh iyaaa makasih ya nak."
"Iya."
"Makasih. Wes ibuk doain lancar semuanya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Air mataku sudah tidak tertahan lagi ketika mendengar kata terima kasih dari beliau. Suaraku sudah serak saat mengucapkan salam.
25 November. Hari Guru Nasional.
Selamat hari guru untuk guru terbaikku, ibu. Guruku dari aku lahir, hingga hampir berusia 20 tahun ini.
Usianya sudah lebih dari setengah abad. Namun semangat untuk mendidik tak pernah pudar.
Ibuk, guruku di rumah juga di bangku sekolah dulu.
Meski ibuk bukan guru yang sering berbicara di atas mimbar. Meski ibuk bukan pemegang jabatan tinggi di sekolah. Ibuk adalah guru terbaikku. Guru kehidupanku.
Aku tahu ibuk lelah setiap pulang mengajar. Dan aku dengan jahatnya minta makan. Ibuk dengan ikhlas memasak. Meski baru saja sampai rumah.
Aku tahu ibuk lelah setiap pulang bekerja. Tapi masih menyempatkan diri mengurus rumah tangga.
Ibuk lelah habis melakukan pekerjaan rumah, tapi masih menyiapkan bahan untuk mengajar esok harinya. Demi murid-murid tercintanya.
Maafkan aku buk, menjadi murid yang tidak tahu diri. Meminta tanpa memberi.
Maafkan aku buk, sering kesal denganmu ketika sudah menasihatiku. Aku tahu itu baik, hanya aku yang terlalu keras kepala hingga tak mau mendengarkanmu.
Maafkan aku buk, belum bisa memberi apa-apa. Aku janji, setelah bekerja nanti tak akan merepotkanmu lagi.
Maafkan aku buk, sering melalaikan nasihatmu.
Maafkan aku buk, sering membantahmu.
Maafkan aku buk, sering membuatmu kecewa.
Maafkan aku buk, sering membuatmu menangis.
Terima kasih sudah mendidikku, mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan.
Aku sayang ibuk, guru terbaikku.
_________________________________________________________
Januari, 2016.
Ada 12 panggilan tak terjawab di ponselku, 1 panggilan Whatsapp, 1 SMS, 1 pesan Whatsapp. Dari nomor yang sama. Isinya sama "Kamu dimana kok ditelpon gak diangkat." Aku sedang di acara kerja bakti dan penanaman pohon di kampung sekitar kampus, mewakili organisasi kampusku. Selesai acara, aku langsung berlari ke kosan. Sampai di kos langsung kutelpon nomor itu.
"Halo assalamualaikum?"
"Wa'alaikumsalam. Masih ada acara tadi."
"Oh bentar, ibuk aja yang telpon balik."
...
"Halo?"
"Ya. Kemana aja nduk? Ibuk khawatir mikirnya udah kenapa-kenapa sendirian di kos."
"Gak, ada acara kerja bakti di kampung."
"Lho ngapain? Temen-temenmu udah balik semua ta?"
"Belum. BEMnya aja."
"Oalah yawes, tadi pagi makan sama apa?"
"Sop. Mis, selamat ulang tahun."
"Oh iya makasih. Doanya apa? Selamat aja?"
"Ya panjang umur, rezekinya lancar, ditambah. Hehe."
"Iya aamiin. Nanti uangnya tak kirim yang belanja kemarin."
"Iya."
"Udah makan siang?"
"Udah tadi dikasih orang kampung."
"Hati-hati lho kalo makan, yang bersih tempatnya."
"Iya."
"Paketannya juga udah dikirim, sampenya hari Selasa insyaAllah."
"Iya."
"Yawes, ati-ati. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
3 Januari 2016. Kebetulan hari ini hari ulang tahun ibuk ke 52 tahun. Sudah tua. Tapi ibuk tetap semangat, tidak pernah malas.
Ibuk memang tidak bisa mengendarai sepeda motor dan menyetir mobil, tapi ibuk tidak pernah manja, berusaha mandiri dengan naik angkutan umum. Tidak seperti aku, yang sudah bisa mengendarai keduanya, bahkan memiliki izin resmi, tapi sangat malas menyetir, selalu minta diantar kemana-mana.
Ibuk bukan sosialita yang suka membeli barang mewah. Ibuk sederhana, tas bermerk cukup mahal hanya memiliki satu atau dua, sisanya, cukup toko murah saja, yang penting nyaman.
Ibuk, pemilik masakan terenak menurutku. Meski hanya sayur bayam dan tempe goreng, aku tak pernah bosan memakannya. Ibuk bisa memasak segala masakan Indonesia, tidak seperti aku yang cuma bisa menggoreng telur.
Ibuk cerewet, jujur saja. Selalu berkomentar jika saya tidak rapi, tidak bersih, tidak berpakaian sesuai, terlambat, atau malas-malasan. Tapi aku tahu itu untuk kebaikanku, biar menjadi sosok istriable, seperti ibuk.
Ibuk melarangku kemana-mana. Ke pantai, tidak boleh. Naik gunung, tidak boleh. Pulang malam, tidak boleh. Berduaan dengan lawan jenis, tidak boleh. Membeli makanan mahal, tidak boleh. Tapi aku melanggarnya. Dan baru sadar, itu untuk melindungiku dari hal yang tidak-tidak. Tapi maaf buk, aku tidak bisa berhenti travelling.
Ibuk sangat ahli bersyukur. Meski dapat cobaan, ibuk gak pernah berhenti bersyukur. Gak kayak aku yang dikit-dikit ngeluh.
Ibuk sangat sayang ibunya, atau nenekku. Meski (katanya) dipilihkasihi sebagai anak pertama, ibuk tetap anak yang paling sering menjenguk nenek dan kakekku.
Ibuk gak pelit. Suka bantu orang. Suka beliin nasi orang di pinggir jalan yang udah tua. Ngasi makan tetangga yang tua renta. Beli dagangan orang yang gak laku (meski ujung-ujungnya barang itu dikasi ke orang lain). Gak tegaan. Gak kayak aku.
Ibuk susah diajak bercanda. Terlalu menganggapi candaan jadi serius. Jadi sering sebal. Tapi mengimbangi Ayah yang suka bercanda.
Ibuk lebih memilih kualitas dibanding kuantitas. Baik dalam membeli barang dan pertemanan. Ibuk gak suka beli barang-barang yang gak terlalu dibutuhkan, tapi sekali beli langsung bagus. Ibuk temannya sedikit, tapi baik-baik. Ibuk gak suka reunian kayak Ayah. Bagus sih, kalo kedua orang tuaku suka reunian, anak-anaknya sering ditinggal di rumah.
Ibuk suka di rumah aja. Gak suka nonton film di bioskop, katanya bosan cuma duduk nonton, mending di rumah, nonton TV bisa sambil melakukan pekerjaan rumah tangga. Haha.
Ibuk terampil, bisa mengerjakan kerajinan bermacam-macam. Menyulam, merajut, mengkristik, dan lainnya. Dulu, tugas kerajinanku waktu SD sering dikerjakan Ibuk hehe.
Masih banyak hal tentang ibuk, ibuk paling sempurna di dunia, ibuk terbaik untukku.
Sering aku risih, selalu ditelepon. Dari SMP sampai sekarang. Sampai teman-teman SMP dan SMAku hafal. Tapi aku mengerti, ibuk mencemaskanku. Aku bahkan kangen kalau sudah dua hari tidak menelepon. Kangen omelannya.
Ibuk.
Maaf belum bisa bahagiain ibuk. Maaf sering bikin nangis kalau aku kelepasan sewot. Maaf sering bikin sebal kalau aku malas. Maaf kalau jarang nurut. Maaf kalau jarang bantuin ibuk. Maaf suka gak niat kalau ibuk minta ajarin komputer atau smartphone. Maaf belum bisa beliin ini itu. Maaf sering merengek minta dibeliin barang. Maaf belum bisa berangkatin umroh, aku yakin suatu saat nanti pasti bisa umroh bareng ibuk.
Aku pasti akan bahagiain ibuk. Meski gak akan sebanding dengan pengorbanan ibuk buat aku.
Selamat ulang tahun ibuk. Semoga panjang umur, biar bisa lihat aku sukses nanti. Biar bisa menikmati kesuksesanku. Aamiin.


0 comments