Sendiri
16:56
Setiap orang memiliki candu. Kalaupun tidak semua, sebagian orang pasti memilikinya. Mungkin ada yang pecandu minuman keras, seks bebas, obat terlarang, atau rokok.
Ah, candu tidak sesempit itu. Ada yang kecanduan bersedekah, membaca kitab suci, atau melakukan hobinya.
Atau mungkin ada yang memiliki candu yang sama denganku.
Canduku, kesendirian.
Aku sudah terlalu menikmati kesendirianku.
"Aku temenin?"
"Kamu pergi kesana jauh sendiri??"
"Ngapain solo travelling? Gak enak banget lah."
"Serius sendiri?"
Dan komentar miring lainnya.
Aku seakan tidak butuh siapa-siapa lagi, kecuali orang tuaku.
Kalau sakit, aku bisa mengatasi sendiri.
Kalau tidak ada teman, aku bisa pergi sendiri.
Aku sudah muak berbasa-basi dengan orang baru, akhirnya aku memilih diam, membaca buku di pojok ruangan, daripada bingung mencari topik pembicaraan.
Aku lelah, kadang harus berpura-pura memahami teman-temanku disini. Berpura-pura cocok padahal tidak. Ada yang sepemikiran tapi tidak berlangsung lama. Susah orang-orang menembus duniaku, kata salah satu sahabat lamaku, yang tetap tahan berusaha memahamiku.
Tapi aku terlalu malu menghubungi teman-teman lamaku. Akhirnya hanya mengecek media sosial mereka dan tersenyum diam-diam mereka baik-baik saja.
Aku seperti tidak punya siapa-siapa.
Diam, menjadi pilihan utama.
Kalaupun sedang lelah dirundung deadline, aku memilih menghindar, mematikan akses komunikasi untuk sementara.
Menenangkan diri secukupnya.
Hanya orang tuaku dan Tuhan yang kubutuhkan.
Tapi orang tua ratusan kilometer jauhnya.
Akhirnya aku hanya memendam kerinduan, menghitung kalender berapa bulan lagi aku pulang.
Hanya Tuhan yang dekat.
Namun hubunganku dengan-Nya sedang renggang-renggangnya. Aku tak tahu diri. Sedang bingung bagaimana memperbaiki.
Aku sendirian.
Kecanduan.
Kecanduan.
0 comments