Temu (2)
21:22
"Han.", sapaku di depan tempat wudhu mushola, sewaktu acara telah selesai.
"Hei! Kamu ikut juga?", tanyanya sambil mengulurkan tangan.
"Iya hehe."
"Jadi apa?"
"Fasil. Kamu inspirator ya?"
"Iya. Ini langsung pulang ntar?"
"Iya kayaknya."
"Pulang bareng yuk?"
"Naik apa?"
"Terserah, kamu tadi naik apa?"
"Tadi naik KRL terus gojek sih."
"Iya gak papa. Yaudah nanti aku tunggu ya."
"Ok."
...................................................................
"Heh."
"Hei, langsung pulang nih?"
"Iya."
...................................................................
Kami pun berjalan keluar gedung. Hujan mulai turun.
"Mau makan dulu gak?"
"Ha? Dimana emang?", pertanyaan bodoh, jelas-jelas di depan ada salah satu mall terelit di ibukota, pusat brand ternama, juga pusat kuliner-kuliner yang ingin sekali kukunjungi, sayang harganya tak ada yang manusiawi pada kantong anak kosan. Pun aku sedang tidak mau makan hanya berdua dengan lawan jenis.
"Ya disitu. Di Bintaro aja ya?"
"Iya." Iya, makan sendiri-sendiri di kos masing-masing aja
Saat menyusuri jalan di komplek perkantoran terbesar di daerah Sudirman itu, hujan turun dengan derasnya. Bodohnya, aku lupa membawa payung. Untung saja dia membawa. Akhirnya kita berjalan satu payung menuju halte busway, ntah bagaimana bisa rencana naik gojek hilang begitu saja. Mau naik kopaja tapi hujan sedang semangat-semangatnya menumpahkan air ke bumi. Sepanjang jalan aku menahan tawa. Bukan kegirangan. Hanya bertanya-tanya. Mengapa dari sekian banyak temanku, bertemunya dengannya? Sudah hampir dua tahun tidak bertemu, bahkan aku pun tak kepikiran akan bertemu lagi. Dalam hati aku tertawa, bagaimana bisa mengalami hal (bisa dibilang agak) so sweet (mungkin jika aku mengalami dengan orang yang disuka sudah beda ceritanya) dengannya? Jalan berdua saat hujan, naik transportasi umum berdiri sambil saling bercerita panjang lebar tentang acara seharian, kuliahku, teman-teman kami, dan kerjaannya (aku sampai heran bisa bercerita banyak padahal kami tidak pernah cukup dekat), sampai aku berusaha mencari jalan pintas ketika sudah sampai wilayah kampusku untuk menghindar, tapi tidak bisa karena jalan kami searah. Akhirnya kami berpisah di persimpangan gang.
...................................................................
Aku sering heran, bagaimana Tuhan mempertemukanku dengan seseorang tanpa kesengajaanku. Ingin melihat prosesnya, saat Tuhan mengatur cerita. Siapa yang akan bertemu denganku, bagaimana kami bertemu, dimana tempatnya, kapan waktunya, bagaimana cuacanya. Dan yang paling membuat penasaran, mengapa harus orang itu? Apa alasan Tuhan mempertemukanku dengan orang itu?
Ntahlah.
Hanya Tuhan yang tahu.
Tapi aku selalu mensyukuri setiap ketidaksengajaan pertemuanku dengan orang-orang. Aku selalu menikmati, tidak pernah berusaha bersembunyi (kecuali pada orang-orang tertentu yang memang ingin kuhindari hehe).
Tuhan, Kau selalu membuatku penasaran.
Aku tidak sabar, dengan siapa lagi aku akan kau pertemukan?
0 comments